200 penderita HIV/AIDS ditemukan Dinkes Kota Kediri-Jatim

Oleh Didik Kusbiantoro dan Asmaul Chusna

Kediri, Jatim (ANTARA News) – Dinas Kesehatan Kota Kediri, Jawa Timur, menemukan ada 200 orang penderita baru penyakit HIV/AIDS sepanjang tahun 2018 dan mayoritas adalah laki-laki. 

“Secara keseluruhan sejak 2003 hingga 2018 tercatat sekitar 1.300 penderita HIV/AIDS yang terdata. Untuk tahun 2018 saja sampai Desember 2018 ada 200 orang lebih,” kata Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri, Hendik Suprianto di Kediri, Minggu. 

Dikatakan, data tersebut diakumulasi dari berbagai fasilitas layanan kesehatan di Kota Kediri. Para penderita itu tidak hanya berasal dari Kediri, tetapi juga dari sejumlah daerah sekitar yang memeriksakan kondisi kesehatannya di Kediri.

Untuk layanan kesehatan dan pemeriksaan HIV/AIDS di Kediri, antara lain ada di RSUD Gambiran II, Klinik Seroja, dan Puskesmas Pesantren I Kediri. 

Dari temuan kasus baru selama 2018, tambahnya, sekitar 60 persen berjenis kelamin laki-laki dan mayoritas juga masih berusia produktif antara 20-40 tahun. 

Menurut Hendik, mobilitas lebih tinggi dari kaum laki-laki yang kemungkinan membuat mereka rentan terkena penyakit yang menyerang kekebalan tubuh tersebut.

“Persentase kasus HIV/AIDS yang tinggi memang laki-laki. Kami akumulasi mereka berusia produktif, karena penularan ini bisa jadi terkait mobilitas, perilaku. Misalnya, intensitas keluar malam dan berpotensi bersinggungan dengan penderita HIV/AIDS, sementara ibu-ibu atau kaum perempuan lebih banyak tinggal di rumah,” katanya. 

Dinkes Kota Kediri saat ini intensif memantau kesehatan mereka yang terkena HIV/AIDS. 

Menurut Hendik, orang yang menderita HIV kondisinya cukup baik seperti orang sehat pada umumnya, berbeda dengan penderita AIDS yang kondisinya sudah mengkhawatirkan. 

Untuk pasien yang positif HIV, lanjutnya, dianjurkan selalu mengonsumsi antiretroviral (ARV). Obat ini memang tidak dapat menyembuhkan sepenuhnya, namun mampu menekan perkembangan virus, sehingga kondisi pasien menjadi baik. 

“ARV itu obat untuk menekan virus serendah mungkin. ARV membatasi perkembangan virus menjadi sangat sedikit,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa selama dua tahun terakhir Dinkes Kota Kediri menemukan sedikitnya 10 ibu hamil yang positif terkena HIV, tetapi dari hasil pemeriksaan diketahui kalau anak yang mereka kandung justru dinyatakan negatif (tidak tertular) HIV.

Kasus itu diketahui saat pemeriksaan kesehatan dalam program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) di sejumlah tempat layanan kesehatan yang ditunjuk di Kota Kediri.

Hendik juga mengimbau masyarakat untuk tidak menjauhi mereka yang terkena HIV maupun AIDS, mengingat penularan penyakit itu juga tidak sembarangan, seperti dengan jabat tangan atau sentuhan kulit.

Baca juga: Jumlah PSK di Kabupaten Kediri Naik Drastis

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Close Menu