9.328 warga Makassar mengungsi akibat banjir

Makassar, Sulawesi Selatan (ANTARA News) – Sebanyak 2.841 keluarga yang terdiri atas 9.328 warga mengungsi untuk menghindari dampak banjir di Kota Makassar menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Makassar M Ilham Tofan, Rabu, para pengungsi tersebar di Kecamatan Biringkanaya, Manggala, Panakkukang, Tamalanrea, dan Tamalate.

Petugas BPBD, Dinas Sosial, Taruna Siaga Bencana serta PMI telah turun ke sejumlah posko pengungsian untuk mendidikan dapur umum, menyalurkan bantuan, serta memberikan pelayanan kesehatan kepada korban banjir.

Aparat kelurahan dan kecamatan setempat membantu para personel bantuan menuju ke area terdampak banjir.

“Memang kita harus kerja sama saling bantu membantu dengan berkoordinasi tentunya, baik pihak kecamatan maupun kelurahan. Selain itu sudah ada instruksi Wali Kota untuk stand by bila keadaan darurat,” kata Ilham.

Ia mengatakan saat ini banjir sudah mulai mereda di beberapa bagian Makassar meski hujan masih turun dengan intensitas ringan sampai sedang. 

Menurut dia, air yang menggenangi Perumnas Antang Blok 8 dan 10 di Kecamatan Manggala mulai surut, demikian pula di kompleks Kodam 3 Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, termasuk lokasi terparah di jalan Kotipa 10 dan 15 yang berdekatan dengan aliran anak sungai Nipa-nipa.

Ia mengatakan air di anak sungai mesti dikuras menggunakan mesin supaya tidak membanjiri permukiman warga, dan selanjutnya perlu dibangun tanggul permanen untuk menekan risiko banjir.

“Bila langkah itu dilakukan kemungkinan daerah ini akan tidak lagi seperti sekarang, minimal mengurangi dampaknya,” ujarnya.

Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto sebelumnya menyatakan Perumnas Antang dan wilayah sekitarnya kebanjiran karena ada penyempitan dan sumbatan saluran pembuangan air ke sungai Nipa-nipa.

“Genangan air dari wilayah Perumnas dan sekitarnya yang seharusnya terbuang ke anak sungai Nipa-nipa tidak teraliri dengan maksimal. Bahkan pembuangan lebarnya hanya empat meter, sehingga terjadi pelambatan air masuk ke Sungai Tello,” katanya usai menyusuri  Nipa-nipa menggunakan perahu karet.

Baca juga:
BNPB: Kawasan konservasi di Sulawesi Selatan perlu ditata
Sebagian besar banjir Sulawesi Selatan sudah surut

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Close Menu