Geliat literasi di Padang Panjang

Puluhan buku berjejer rapi di dalam rak sederhana yang disusun di teras rumah seorang warga. Di hadapannya, sejumlah anak laki-laki tampak asyik membaca buku-buku yang tersedia.

Di bagian lain teras rumah itu, beberapa anak perempuan dengan ceria bernyanyi diikuti petikan gitar yang dimainkan seorang remaja laki-laki.

Anak-anak SD tersebut ditemani seorang guru sedang singgah di taman bacaan masyarakat (TBM) Ruang Baca Rimba Bulan di Kelurahan Silaing Bawah, Kota Padang Panjang, Suamtera Barat usai aktivitas di sekolah.

Ruang Baca Rimba Bulan merupakan tempat mampir bagi siapa saja. Selain tersedia buku, secara berkala juga diadakan diskusi mengenai topik yang sedang hangat dan dapat diikuti oleh siapa saja secara gratis.

Di kelurahan lain di kota berjuluk Serambi Mekkah itu, yaitu di Kelurahan Koto Panjang, terdapat TBM lain bernama Pojok Baca Sahabat Bukit Tui yang juga memanfaatkan teras rumah seorang warga.

Di lokasi ini, selain juga tersedia buku bacaan bagi anak, juga terdapat ragam aktivitas untuk menumbuhkan kreativitas orang dewasa dan anak-anak yang mampir melewatkan waktu bermain mereka di sana.

Ada yang belajar membuat barang kerajinan seperti bunga dan membuat mainan dari barang bekas, belajar mendongeng, membuat tugas sekolah bersama-sama, shalat berjamaah dan lainnya. Usai beraktivitas di sana, anak-anak diajak mengungkapkan pengalaman di Pojok Baca Sahabat Bukit Tui lewat tulisan.

Kemudian di Kampung Padang Kellok, Kelurahan Ngalau, warga mengubah pos keamanan lingkungan (Poskamling) bertambah fungsinya menjadi taman baca.

Lahan kosong di sebelahnya dimanfaatkan menjadi area bermain anak dan lokasi bertanam tanaman obat. Di Padang Kellok, warga dikenalkan pada pemanfaatan tanaman obat dan aktivitas membuat barang kerajinan.

Ruang Baca Rimba Bulan, Pojok Baca Sahabat Bukit Tui serta Ruang Baca dan Kreativitas Kampung Padang Kellok adalah tiga dari 15 TBM yang saat ini hadir di Padang Panjang.

Di TBM-TBM tersebut orang dewasa diajak mengisi waktu luang mereka untuk belajar, mengangkat potensi diri dan lingkungan sementara anak-anak diajar agar mencintai buku dan tumbuh kreatif dengan bermain permainan edukatif.

Geliat literasi

Pemerintah Kota Padang Panjang pada 2017 mengukuhkan Forum Pegiat Literasi (FPL) yang berisi 49 orang anggota. FPL sebagai sebuah lembaga kemitraan bentukan pemerintah daerah beraktivitas membantu menghidupkan kegiatan literasi di daerah itu.

Selama satu tahun pertama, literasi belum dilirik oleh masyarakat setempat. Ketika itu FPL bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) setempat melakukan kegiatan seperti wakaf buku dan membuka lapak baca menggunakan mobil perpustakaan keliling untuk mengenalkan pada masyarakat apa itu literasi.

Berjalan satu tahun diikuti inovasi kegiatan literasi seperti kelas kreatif setiap akhir pekan di Perpustakaan Daerah maupun aktivitas dari anggota FPL, barulah literasi kemudian dilirik oleh masyarakat dan ikut melakukan kegiatan untuk menghidupkannya.

Hal itu juga didukung dengan adanya pencanangan Padang Panjang sebagai Kota Literasi dan acara Temu Penyair se-Asia Tenggara yang dilaksanakan DPK pada Mei 2018.

“Karena lingkup acara yang cukup luas, kami merekrut 50 relawan guna membantu persiapan dan pelaksanaan acara,” kata Ketua FPL Padang Panjang, Muhammad Subhan.

Para relawan yang terdiri dari siswa SMP, SMA, mahasiswa dan umum semula akan dibubarkan usai acara temu penyair. Namun mereka memilih tetap berkumpul dalam satu wadah sebagai relawan pegiat literasi.

Saat ini, terdata 15 taman baca masyarakat (TBM) sudah ada di beberapa kelurahan di Padang Panjang. TBM lahir karena diawali oleh ketertarikan para pengelola terhadap literasi disertai keinginan ikut membantu menyediakan ruang dan aktivitas yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya generasi muda.

“Sebelum pemda mengukuhkan FPL, dulu mereka yang peduli literasi jalan sendiri-sendiri. Sekarang semuanya bisa bekerjasama, warga, FPL dan DPK saling memberi masukan dan berbagi mengisi kegiatan di TBM-TBM yang sudah ada,” katanya.

Meski bernama taman baca, namun yang tersedia bukan hanya ruang baca dan koleksi buku melainkan ada aktivitas lain untuk meningkatkan interaksi antarwarga, pemberdayaan masyarakat, serta yang terpenting mendidik anak-anak menjadi generasi gemar membaca, kreatif dan mandiri.

“Ada yang punya aktivitas membuat kerajinan tangan, mendongeng, tahfiz Al Quran, usaha tanaman obat keluarga dan lainnya. Taman baca sekaligus jadi ruang belajar, seseorang yang sebelumnya tidak bisa menjadi bisa,” katanya.

Subhan menerangkan agar aktivitas di TBM hidup, terdapat tujuh indikator yang mesti dipenuhi. Indikator tersebut yaitu TBM memiliki tempat berkumpul (basecamp) yang tertata dan menarik agar ramai dikunjungi, memiliki program atau kegiatan untuk jangka waktu tertentu seperti beberapa bulan hingga dalam satu tahun ke depan, memiliki sumber daya pengelola, pengurus dan relawan, ada pendanaan.

Selanjutnya, pengurus TBM membangun jaringan dengan perangkat daerah atau organisasi yang ada karena literasi memiliki cakupan luas di banyak bidang, mendokumentasikan dan mempublikasi kegiatan melalui media sosial agar dikenal masyarakat serta melakukan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan dan kendala dari jalannya kegiatan yang telah dilaksanakan.

Literasi untuk kesejahteraan

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Padang Panjang, Alvi Sena mengatakan pemerintah memiliki program literasi untuk kesejahteraan. Dalam program ini, masyarakat diajak agar memiliki kemauan berkembang sehingga berdaya atau mampu mengangkat potensi diri.

Ia menargetkan setiap kelurahan di Padang Panjang memiliki satu kampung literasi yang akan menjadi wadah bagi warga berdiskusi dan diberi bantuan buku-buku yang sesuai dengan potensi di setiap kelurahan.

Keberadaan taman baca masyarakat yang sudah mulai tumbuh di beberapa kelurahan diharapkan menjadi penguat kampung literasi tersebut.

Dengan literasi, ujarnya, juga dapat menjadikan warga cermat terhadap berbagai informasi yang tersebar dengan mudah melalui media sosial seperti Facebook atau layanan pesan instan seperti Whatsapp.

“Banyak kita temui hoaks. Bayangkan jika masyarakat tumbuh dalam lingkungan berita yang tidak jelas. Di sini peran literasi, masyarakat menjadi mau mencari tau, jika benar dapat dimanfaatkan dan jika salah tidak justru ikut menyebarluaskannya,” katanya.

Kepala Bidang Perpustakaan DPK Padang Panjang, Yoni Aldo menambahkan pada Maret 2019 diagendakan sebuah festival literasi yang menampilkan produk dari kegiatan yang dijalankan di setiap TBM.

Produk dari kegiatan literasi dapat berupa barang kerajinan, inovasi pertanian, inovasi kuliner daerah, pemanfaatan tanaman obat, penataan daerah menjadi tujuan wisata dan budaya atau bentuk kreativitas lainnya.

Di festival literasi, masyarakat dapat melihat berbagai bentuk produk atau kegiatan literasi sehingga diharapkan bisa menjadi contoh untuk diterapkan di kelurahan lain yang belum melakukannya.

Saat ini, taman baca yang ada sedang dibina dalam pelaksanaan aktivitas agar dapat merangkul masyarakat terutama anak-anak untuk mengisi waktu luang di sana.

Warga juga diajak menghimpun potensi yang ada di lingkungannya seperti kuliner, cerita rakyat atau lainnya untuk ditampilkan dalam festival literasi yang digelar di Bancah Laweh pada Maret 2019.

“Kami mengharapkan sebuah dampak setelah festival literasi ini di mana kelurahan menjadi basis kegiatan literasi, ada semangat warga untuk mengangkat potensi diri dan lingkungannya,” katanya.

Baca juga: Akademisi memainkan peran penting bagi pendidikan literasi media
Baca juga: Literasi bisa menjadi daya tangkal terhadap hoaks

 

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Close Menu