Guguran awan panas pertama Merapi tergolong kecil

Yogyakarta (ANTARA News) – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi menyebut guguran awan panas Gunung Merapi yang terjadi untuk pertama kalinya pada Selasa (29/1) malam tergolong kecil.

“Kejadian semalam adalah kejadian guguran awan panas pertama. Namun, guguran yang terjadi masih tergolong kecil,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida di Yogyakarta, Rabu.

Hanik mengatakan kesimpulan bahwa guguran yang terjadi pada Selasa (29/1) malam adalah awan panas, bukan semata-mata lava pijar yang hampir selalu terjadi selama beberapa hari terakhir, diambil berdasarkan analisa visual dan jejak deposit material guguran.

“Ada perbedaan pada seismik dan ekstrusi magma dengan kejadian lava pijar yang terjadi sebelum-sebelumnya. Oleh karena itu, kami menyimpulkan bahwa guguran yang terjadi semalam adalah guguran awan panas,” katanya.

BPPTKG mencatat tiga kali guguran awan panas Merapi dengan jarak luncuran yang berbeda-beda namun semuanya mengarah ke Sungai Gendol, dengan guguran awan panas pertama terjadi pukul 20.17 WIB dengan jarak luncur 1.400 meter dan durasi 141 detik.

Guguran kedua terjadi pukul 20.53 WIB dengan jarak luncur 1.350 meter selama 135 detik dan guguran awan panas ketiga terjadi pukul 21.14 WIB dengan jarak luncur 1.100 meter selama 111 detik. Rata-rata kecepatan guguran awan panas 10 meter per detik.

Guguran awan panas tersebut menyebabkan beberapa daerah di sisi timur Gunung Merapi mengalami hujan abu tipis, termasuk daerah sekitar Kota Boyolali, Kecamatan Musuk, Mriyan, Mojosongo, Teras, Cepogo, Simo, Kabupaten Boyolali, dan Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten.

Meskipun Gunung Merapi mengeluarkan tiga kali awan panas dan mengakibatkan hujan abu tipis, namun BPPTKG tidak mengubah status gunung api yang sampai saat ini berada pada Level II atau Waspada.

“Status Gunung Merapi tidak kami naikkan karena guguran relatif masih kecil dan ancaman terhadap penduduk belum ada. Kami akan menaikkan status jika sudah ada ancaman terhadap penduduk dengan terlebih dulu menganalisa berbagai parameter pengamatan lain seperti deformasi, intesitas kejadian hingga jarak luncur guguran,” kata Hanik.

Mengenai potensi terjadinya awan panas, BPPTKG menyatakan tidak bisa memperkirakan karena hal itu tergantung pada berbagai faktor.

“Namun, saat ini kami sudah memiliki parameter yang bisa menjadi acuan untuk identifikasi. Tadi malam memang tidak bisa langsung disimpulkan sebagai awan panas karena belum ada kejadian awan panas dengan kondisi magma seperti saat ini dan medan luncur seperti saat ini,” katanya.

Awan panas yang baru saja terjadi pun tidak bisa dibandingkan atau disandingkan dengan awan panas yang muncul pada tahun-tahun sebelumnya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tenang namun waspada dan memperhatikan arahan dari petugas berwenang terkait kondisi Gunung Merapi.

“Jarak aman pun masih ditetapkan tiga kilometer dari puncak. Pada jarak tersebut tidak diperbolehkan ada kegiatan apapun,” katanya.

Baca juga:
Hujan abu Merapi di Boyolali
Merapi delapan kali muntahkan lava pijar sejak dini hari

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Close Menu