Membangkitkan kembali desa transmigrasi di Aceh

Meulaboh, Aceh, (ANTARA News) – Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh disatukan oleh keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di tapal batas kabupaten yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Meulaboh itu.

Sebelum tahun 2002, kedua daerah ini masih satu kabupaten, dengan bermacam produksi sumber daya alam yang melimpah menjadi penopang perekonomian masyarakat, terutama dari hasil pertanian, kebun dan tanaman hortikultura.

Luasnya wilayah sehingga memunculkan inisiatif pemerintah melakukan pemekaran keduanya agar pembangunan lebih cepat, terpangkasnya jarak pusat pemerintahan dengan kondisi masyarakatnya yang saat itu belum begitu baik.

Perkembangan pasar di dua daerah itu pun terpecah, Nagan Raya dikenal penghasil produksi tanaman padi karena ketersediaan lahan dan infrastruktur pertanian, serta Aceh Barat dikenal penghasil getah karet dan sawit.

Pasar Meulaboh dan pasar Jeuram merupakan dua titik lokasi pasar induk tempat masyarakat berniaga dan membawa hasil pertanian untuk dijual, walaupun saat itu kondisi perekonomian di Aceh masih sangat sulit.

Di Meulaboh cukup banyak ditemukan hasil produksi pertanian, terutama buah-buahan lokal. Semua itu ternyata hasil pengembangan pertanian yang dilakukan oleh penduduk pedalaman yang bermukim di kawasan transmigrasi.

Ekses dari konflik dan tsunami Aceh 2004, hasil produksi pertanian dari masyarakat transmigrasi, khususnya dari Nagan Raya sudah semakin sulit ditemukan, misalkan buah jeruk bali madu/pamelo atau lebih dikenal dengan namanya buah “sunkist”.

Palawija, seperti cabai merah, cabai rawit, kacang tanah sangat banyak diproduksi dari kawasan transmigrasi, masyarakat mulai urbanisasi ke pusat ibu kota kabupaten. Padahal masyarakat transmigrasi merupakan warga yang paling produktif dalam bercocok tanam dan membawa hasil pertanian ke pasar.

Masyarakat di Kabupaten Aceh Barat maupun di Nagan Raya merasakan betapa pentingnya warga transmigrans yang menyuplai hasil pertanian ke pasar daerah setempat sehingga mengenal bermacam komoditas pertanian dan perkebunan.

Saat ini, pemerintah berupaya menghidupkan kembali kawasan permukiman eks transmigrasi yang keberadaannya jauh dari perkotaan. Masih banyak masyarakat di kawasan pedalaman seperti di Nagan Raya, membutuhkan pembangunan. Terutama akses pendidikan dan infrastruktur yang sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan permukiman yang dekat dengan ibu kota Pemerintah Kabupaten Nagan Raya.

Sentuhan berupa kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) hingga kegiatan bakti sosial dilakukan TNI dengan dukungan Pemkab Nagan Raya untuk membangun sendi-sendi perekonomian masyarakat transmigrasi.

Seperti di Desa Blang Lango, Kecamatan Seunagan Timur, jajaran Kodim 0116/ Nagan Raya terus mendorong percepatan proses belajar mengajar di daerah transmigrasi, karena telah ada satu unit bangunan SD yang diwujudkan pemerintah.

Komandan Kodim 0116/ Nagan Raya, Letkol Kav Nanak Yuliana, menyampaikan, pihaknya akan membantu menempatkan tenaga pengajar di sekolah terpencil untuk menunjang pendidikan daerah setempat.

“Saat ini warga transmigrasi sangat membutuhkan pendidikan, terbukti warga harus menempuh jarak yang jauh untuk menyekolahkan anaknya ke desa tetangga dengan akses jalan yang sulit dan melewati sungai yang deras,” katanya.

Hal itu disampaikan di sela-sela meninjau Sekolah Dasar (SD) yang baru selesai dibangun di kawasan Desa Transmigrasi Blang Lango, Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, bersama sejumlah pihak terkait, pada Kamis (24/1).

Kodim 0116/ Nagan Raya siap membantu tenaga pengajar dari personel TNI untuk menunjang pendidikan di sekolah tersebut karena baru usai dibangun, akan tetapi kebutuhan masyarakat sudah terlihat untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Apa yang dilakukan pihaknya adalah untuk mendorong percepatan proses belajar mengajar di wilayah transmigrasi yang letaknya terpencil dan bagian upaya membantu pemerintah mencerdaskan anak bangsa.

Masyarakat diharapkan ikut membantu agar proses belajar-mengajar bisa berjalan. Dalam kunjungannya ke sekolah tersebut, turut hadir Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan (Disdik) Nagan Raya, Damharuis.

Sementara itu, Kepala Desa Blang Lango, Odiyantri, mengucapkan terima kasih kepada pihak TNI yang sudah peduli dengan pendidikan di desa tersebut, karena dengan aktifnya kegiatan belajar mengajar sangat membantu warga setempat.

“Saat ini kami memang sangat membutuhkan pengajar supaya SD kita di sini bisa dimanfaatkan. Karena saat ini warga kita banyak yang menyekolahkan anaknya keluar, ditambah lagi dengan sulitnya akses jalan,” katanya.

Selain belum tersedianya fasilitas pendidikan, masyarakat di kawasan setempat juga hingga kini masih kesulitan terhadap akses jalan, sebagian warga masih memilih mengambil jalan pintas menuju kota dengan menggunakan jasa rakit tradisional.

Penambahan SD transmigran

Pemerintah terus membangun lembaga pendidikan di kawasan transmigrasi di Nagan Raya. Salah satunya SD Transmigran di Desa Krueng Isep, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, yang belum lama diresmikan.

Melalui peningkatan sumber daya manusia, diyakini menjadi solusi menjawab tantangan masa depan bangsa Indonesia. Masyarakat di kawasan terpencil juga berhak mendapatkan pendidikan yang lebih mudah dan murah.

Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, saat meresmikan SD Transmigrans pada 30 Desember 2018 menyatakan walaupun dengan serba keterbatasan, secara bertahap akses pendidikan masyarakat diupayakan merata.

“Alhamdulillah, hari ini tiga ruang kelas sudah selesai dan kita resmikan. Semoga dapat dimanfaatkan segera untuk menunjang pendidikan dan memperpendek rentang waktu anak-anak ke sekolah,” katanya.

Nova Iriansyah serta rombongan melakukan perjalanan keliling Aceh dengan mengendarai motor gede (moge) ke sejumlah daerah, di mana salah satu tempat kunjungannya adalah kawasan transmigrasi Kabupaten Nagan Raya.

Kunjungan kerja ke Kabupaten Nagan Raya itu, sekaligus mengevaluasi penyelenggaraan kegiatan pemerintah pusat tahun anggaran 2018 yang ditangani oleh pihak Pemerintah Provinsi Aceh.

“Dalam menempuh pendidikan, anak-anak di desa ini tidak lagi harus menempuh perjalanan dengan jarak yang sangat jauh ke sekolah yang berada di pusat kota kecamatan. Semoga sekolah ini segera dimanfaatkan,” katanya.

Nova berharap pada tahun 2019, sekolah itu sudah bisa dioperasionalkan untuk anak-anak di sekitar lokasi, agar mereka tidak menempuh jarak jauh ke sekolah seperti selama ini, yang mencapai delapan kilometer.

Ia juga meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagan Raya untuk memenuhi setiap kebutuhan dalam kegiatan belajar mengajar di SD Transmigrasi Krung Isep itu.

“Pemkab Nagan Raya dan Pemprov Aceh agar bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Provinsi Aceh untuk melengkapi sekolah ini, baik fisik, sarana dan prasarana maupun guru dan kelengkapan peralatan sekolah,” katanya.

Dalam kunjungan itu, Nova juga mengatakan pihaknya akan berupaya untuk mengalokasikan dana pada tahun anggaran 2019-2020 untuk melengkapi kebutuhan di SD Transmigrasi Krung Isep tersebut.

Kedatangan Nova, bersama sejumlah pejabat provinsi itu disambut hangat oleh Bupati Nagan Raya H M Jamin Idham, beserta unsur Forkopimda, Sekda dan beberapa pejabat Pemkab Nagan Raya.

Untuk membangun sebuah daerah, tentunya dimulai dari bawah, artinya pembangunan daerah tidak akan disebut berhasil apabila masih ada kesenjangan pembangunan perkotaan dengan di perdesaan.

Bupati Nagan Raya H M Jamin Idham, menyampaikan dengan program dana desa diharapkan menjadi salah satu solusi mempercepat pembangunan kawasan pedalaman.

Ia berharap, aparatur desa menggelola dana desa dengan benar dan tepat sasaran supaya bisa membawa perubahan lebih baik bagi kesejahteraan warga. Kepala desa, camat, dan pejabat pemerintah harus bekerja keras untuk masyarakat.

“Berikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Camat bina kepala desa agar terus bisa bekerja sama. Tingkatkan pengabdian agar sasaran pembangunan di Nagan Raya tercapai,” imbuhnya.*

Baca juga: SD transmigrasi diresmikan Gubernur Aceh

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Close Menu