“Seribu Koin” digagas pemuda Lombok untuk kesembuhan anak penderita rematik jantung

Lombok Barat, NTB (ANTARA News) – Belasan pemuda menjalankan program “Koin Seribu Rupiah” pada seluruh kepala keluarga untuk penyembuhan Miftahul Sulhi (13), seorang anak warga Dusun Kebun Lauk, Desa Sesela, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, yang menderita penyakit rematik jantung.

Koordinator Gerakan Pemuda Sesela Peduli Sesama (GPSPS) Desa Sesela, Ahmad Fathony, Senin menyatakan, gerakan kemanusian pengumpulan koin itu adalah upaya nyata sumbangsih generasi muda atas kepedulian pada penyakit yang dialami salah satu anak miskin warga setempat, yakni Miftahul Sulhi

“Langkah pengumpulan koin ini kami lakukan secara ‘door to door’ (dari pintu ke pintu) kepada setiap kepala keluarga (KK) untuk penyembuhan Miftahul Sulhi,” ujarnya saat ditemui di Desa Sesala.

Menurut dia, saat ini Sulhi sangat membutuhkan biaya yang relatif besar untuk berobat ke Surabaya karena rumah sakit di NTB tidak bisa lagi membantu biaya untuk operasi lanjutannya. Selain itu, kedua orang tua Sulhi tergolong warga miskin di wilayah Desa Sesela.

“Ibu Sulhi hanyalah seorang pembantu rumah tangga, sementara bapaknya hanyalah pekerja kasar serabutan. Jadi, kami terketuk untuk membantu biaya pengobatannya, karena dari informasi yang kami terima biaya untuk operasi di Surabaya besarannya mencapai Rp80 juta. Jelas keluarga Sulhi tidak mampu, maka kami terketuk untuk menginisiasinya,” ucap Fathony.

Ia berharap, gerakan itu bisa menuai tanggapan positif dari seluruh warga, termasuk para donatur lainnya sehingga hasilnya bisa ikut dirasakan oleh keluarga Sulhi.

“Bukan soal besar atau kecil nilainya. Yang terpenting adalah semangat berbaginya, maka itu kami sebagai generasi muda memulai melakukan upaya solidaritas antar sesama ini,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, masa anak-anak yang dialami Miftahul Sulhi untuk bermain bersama kawan sebayanya terenggut. Jangankan bermain, tidur pun dia susah. Sebab, sejak tiga tahun lalu, warga Dusun Kebon Lauk, Desa Sesele Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat ini melawan penyakitnya.

Awalnya, dia menderita radang tenggorokan disertai demam tinggi, panas dingin dan kurang nafsu makan. Terakhir dia didiagnosa menderita penyakit “rematik jantung”.

Bocah, 13 tahun ini terus berjuang melawan penyakit langka ini. Meski kemudian perut membesar dan terasa kencang disertai rasa nyeri yang amat sangat. Cepat lelah dan sesak nafas.

Sulhi kini tidak bisa lagi tidur terlentang atau berbaring seperti orang normal. Dia tidur dengan cara duduk dan ketika mau tidurpun harus dipapah atau disandarkan bantal. Sewaktu-waktu, saat kambuh Sulhi mengalami kejang-kejang. Daerah sekitar mata membengkak, dan jantung berdebar lebih kencang.

“Sudah bolak balik puskesmas dan rumah sakit. Herbal dan obat tradisional tidak terbilang. Tapi hasilnya belum juga ada perubahan,” kata Aan Indra Pratama, salah satu tetangga Sulhi.

Salah satu pengurus GPSPS Desa Sesela itu mengakui, pihak keluarga membawa Sulhi ke rumah sakit provinsi. Namun, pihak RSUP NTB malah menyarankan berobat dan dirujuk ke luar kota. Jakarta atau Surabaya yang peralatan medisnya lebih lengkap.

“Tetapi apa daya, kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan. Sulhi lahir di tengah keluarga dengan ekonomi yang sangat terbatas. Ini pula yang menjadi alasan untuk tidak bisa berobat lanjut ke Jakarta atau Surabaya,” kata Aan.

Kesembuhan Sulhi adalah harapan terbesar dan semangat orang tuanya di tengah segala keterbatasan. Menurut Aan, Sulhi saat ini sangat butuh biaya untuk berobat ke Surabaya karena rumah sakit di NTB tidak bisa lagi membantu.

“Maka dari itu, kami generasi muda di Sesela mencoba menggagas gerakan Koin Seribu Rupiah tidak lain untuk membantu meringankan biaya pengobatannya jika dirujuk lanjutan ke Surabaya atau ke Jakarta,” katanya.

Baca juga: Gerakan galang “Koin Seribu” terus berlanjut

Baca juga: Baznas Ambon canangkan gerakan koin peduli sahabat

Baca juga: Komunitas pengamen galang “4 juta koin” untuk Deddy-Dedi

Baca juga: “Coin for Australia” serukan peduli harga diri RI

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Close Menu