“Urip Iku Urub”, sebuah persembahan untuk sejarawan Peter Carey

Jakarta (ANTARA News) – Buku “Urip Iku Urub” pada Rabu diluncurkan di Jakarta sebagai persembahan bagi Prof Peter Carey, sejarawan berusia 70 tahun yang mendedikasikan kerjanya meneliti sejarah modern Indonesia, terutama Jawa.

“Pak Peter sangat berharga dan harus dirayakan. Separuh hidupnya diabdikan untuk meneliti sejarah Jawa dan Indonesia,” kata editor buku FX Domini BB Hera dalam acara peluncuran buku di Auditorium Perpustakaan Nasional.

Buku terbitan Kompas Gramedia itu mencakup tulisan 23 penulis dari berbagai kalangan, termasuk Peter Carey yang diminta Domini menuliskan biografi singkatnya.

Domini mengatakan bahwa saking menyatunya dengan sejarah dan budaya Jawa yang dia teliti, Peter bahkan terasa lebih Jawa daripada kebanyakan orang Jawa.

“Dalam naskah yang saya terima dari Beliau, dia menulis lahir di Rangoon, Myanmar, pada Jumat Pon. Jadi tidak hanya menuliskan harinya saja, tetapi juga hari pasarannya,” tuturnya.

Peter sepanjang kariernya sebagai sejarawan banyak meneliti sejarah Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa.

“Diponegoro adalah warisan ingatan dunia. Saya yakin Indonesia memiliki sumbangan besar untuk dunia,” kata Peter, yang pernah menjadi profesor pendamping di Departemen Kemanusiaan Universitas Indonesia.

Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Prisma Daniel Dhakidae mengatakan Peter merupakan sejarawan yang melibatkan diri dalam konteks sosiokultural dengan objek yang ditelitinya.

“Diponegoro sudah bukan menjadi objek, melainkan subjek dalam penelitiannya karena terjadi dialog baik secara harafiah maupun simbolik,” jelasnya.

Daniel mengatakan Peter telah menjadikan aktivitas membaca sejarah sebagai sesuatu yang kekinian dengan mengajak anak-anak muda berdialog dengan Diponegoro dengan menelusuri peninggalan-peninggalannya.

“Itu merupakan hal baru dalam tradisi akademik di Indonesia,” ujarnya.

Baca juga:
Peter Carey tulis sejarah Pangeran Diponegoro
Ingatan bersama tentang sejarah Indonesia diperlukan untuk jaga toleransi

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Close Menu